1.
Menimba Emas
Dikisahkan setiap
kali beliau berhadast, beliau turun untuk mengambil air wudlu. Ketika Syaikh Abdus Shomad menggunakan periuk atau
kendi sebagai timba untuk mengambil air, kemudian secara perlahan diangkat ke
atas terdapat keanehan, sebab periuk atau kendi yang sedang diangkat ke atas
terasa berat dan harus mengeluarkan tenaga yang lebih. Alangkah terkejutnya
ketika periuk yang telah menyentuh bibir sumur, terlihat bukan hanya berisi air
tetapi sebagian dari badan periuk berisi bongkahan emas yang lebih besar dari
periuk yang digunakan untuk timba.
Sadar bahwa beliau
sedang diuji oleh Allah, SWT segera ia beristighfar dan berdo’a, mengadu bahwa
bukan harta duniawi yang beliau pinta, namun pertolongan, kekuatan, kesabaran
serta ridlo Allah SWT dalam memperjuangkan Agama Islam, di tempat yang baru,
budaya masyarakat yang bermacam-macam serta kepercayaan yang beragam, hingga
kemudian beliau melemparkan kembali emas tersebut ke dalam sumur.
2.
Membungkam Gong
Konon tradisi
kesenian seperti wayang, kuda lumping dan kesenian yang mempergunakan gong,
kenong atau benda lain sebagai alat musiknya, tidak akan berfungsi atau
berbunyi apabila di bunyikan di wilayah Jombor. Dalam sejarahnya sampai hari
ini, belum pernah di jombor ada pagelaran wayang, ronggeng, tayub ataupun kuda
lumping.
Keadaan ini
mengisyaratkan sejarah tersendiri bagi warga setempat. Bagi kebanyakan orang
hal tersebut mungkin sudah mafhum, bahwa itu merupakan Karomah yang dimiliki
Syaikh Abdus Shomad, mengingat jasad beliau dimakamkan di tanah ini. Karomah
tersebut pada dasarnya tidak bisa dinalar sebab itu kekuasaan Allah. Namun bagi
kebanyakan orang tentu hal ini menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji akar
peristiwa yang melatar belakangi.
3.
Membuat “KEDER” Serdadu Belanda
Karomah ini tidak
saja terjadi ketika Syaikh Abdus Shomad masih hidup, bahkan setelah beliu wafat
pun masih dapat dirasakan di lingkungan sekitar Jombor. Diantara karomah yang
terjadi setelah beliau meninggal antara lain membuat bingung atau Keder. Keder
yang sering terjadi pada kita terkadang seputar arah dan tempat serta menjadi
linglung meskipun kita sebenarnya sadar.
Pada masa penjajahan
Belanda, para serdadu Belanda bukan hanya berusaha merebut dan menguasai
pusat-pusat kota di sekitar Banyumas, namun seluruh pelosok di wilayah Banyumas
ini tidak lepas dari kegiatan operasi, untuk memburu para tentara Indonesia
yang bersembunyi di wilayah pedesaan.
Para serdadu Belanda
ini konon mengalami hal aneh dan tidak mampu membuat keputusan operasi
penyergapan atau pun penyerangan terhadap markas tentara Republik, ketika akan
masuk ke Desa Cipete.
Semua jalan yang
menuju Desa Cipete, dianggap sebagai jalan buntu, yang tidak memungkinkan untuk
dilalui mobil-mobil perang serta terhamparnya jurang dan bukit yang tidak
memungkinkan serdadu yang berjalan kaki untuk turun dan mendaki. Dengan
keaneha-keanehan tersebut para serdadu Belanda kemudian mengalihkan dan
berbalik mencari jalan yang lain.
Meski telah
menemukan jalan lain menuju Desa Cipete, namun para Serdadu Belanda ini
mengalami keanehan lain yang sama pada peristiwa kejadian pertama. Akhirnya
para tentara Belanda ini hanya bisa berhenti di perbatasan desa, bingung karena
jalan yang dilalui terlihat seperti jalan yang pertama kali dilalui.
Hal itu berlaku bagi
seluruh Serdadu Belanda, meskipun kompi / pasukan yang berbeda-beda pasti akan
mengalami hal yang sama, baik mereka yang datang dari arah barat (Ajibarang)
maupun mereka yang datang dari arah timur (Purwokerto).
Belum ada tanggapan untuk "Karomah"
Posting Komentar