Jombor merupakan
nama Grumbul di Desa Cipete Kecamatan Cilongok di Kabupaten Banyumas. Nama Desa
ini selalu dikaitkan dengan keberadaan Syaikh Abdus Shomad yang merupakan ulama
abad ke-16 dalam melakukan penyebaran Islam di Banyumas pada umumnya dan
peranannya dalam meng-Islamkan masyarakat wilayah Cipete dan sekitarnya pada
khususnya.
Terdapat beberapa
versi tentang asal usul nama “JOMBOR”
sebagai grumbul di mana Syaik Abdus Shomad berdakwah dan mengajarkan agama
Islam khususnya di wilayah Cipete dan di Kabupaten Banyumas pada umumnya.
Adapun versi-versi ini berdasar dari informasi baik keturunan / trah maupun
masyarakat setempat antara lain :
|
1.
|
Lokasi yang
sekarang didirikan Masjid Baitus
Shomad di RT. 02 RW. 03 Desa Cipete, adalah merupakan tilas yang konon pernah
tumbuh sebuah pohon yang sangat lebat, rimbun dan besar. Tidak jauh dari
pohon tersebut terdapat sungai yang mengalir dengan kejernihan air yang masih
bersifat alami.
Kehadirannya di
wilayah ini disambut warga dengan sikap positif. Sebelum mendirikan Padepokan
ia harus menginap dan istirahat di
rumah warga. Meski penduduk setempat juga menyediakan tempat tinggal untuk
beliau, namun ada hal yang dianggap masih kurang dimana dalam setiap rumah
dan tidak ada tempat yang tersedia untuk beribadah menjalankan ibadah shalat,
karena pada saat itu warga masih memiliki beragam kepercayaan.
Usaha lahir terus
dilakukan oleh beliau melalui sillaturrahim (ngendong bahasa Jawa) dari rumah
ke rumah ibarat sebagai orang pendatang, berbaur dengan warga dalam kerukunan
bermasyarakat. Sedangkan usaha batin beliau melakukan mujahadah, berkhalwat
atau menyepi mendekatkan diri terhadap Allah SWT, memohon pertolongan dan
diberi kemudahan dalam melakukan dakwah dan penyebaran agama Islam terhadap
warga setempat.
Mujahadah ini
tentu membutuhkan ketenangan bathin, sehingga beliau memanfaatkan pohon besar
yang rimbun sebagai tempat untuk menyepi, tanpa ada yang mengganggu
ketenangannya. Konon di atas pohon sebagaimana yang disebutkan di atas, terdapat
cabang yang datar yang memudahkan beliau duduk bersila melakukan dzikir. Cabang – cabang pohon
yang masih rendah memudahkan beliau naik turun tanpa harus menggunakan tangga
untuk naik ke atas.
Jalan antara pohon
terdapat lokasi mata air berupa sumur yang dibuat beliau, yang setiap saat
digunakan untuk berwudlu. Kegiatan naik turun pohon menuju ke lokasi air ini
menyebabkan jalan setapak ini menjadi becek atau dalam bahasa Banyumas
disebut Jember. Orang kemudian
menyebutnya Jombor, sehingga terjadilah Jombor sebagai nama grumbul.
|
||||||
|
2.
|
Hampir di setiap
wilayah, sebelum Islam diperkenalkan kepada masyarakat khususnya di Banyumas
dan umumnya di luar wilayah, kebudayaan, adat istiadat serta kepercayaan
masyarakat beragam dan bermacam-macam. Budaya membuat sesaji, (nyajeni bahasa
Jawa) di tempat-tempat keramat, mengkultuskan batu besar, pohon, berjudi,
main, minum serta perbuatan tercela lainnya masih sangat subur. Sebagai
seorang musafir Syaikh Abdus Shomad tentu tidak serta merta melarang,
membenci, atau pun mencemooh bagi pelakunya mengingat Sebagai seorang
pendakwah Syaikh Abdus Shomad harus tetap istiqomah menunjukkan akhlak yang
mulia terhadap mereka, mengingat mereka belum mengerti.
Jombor pada versi terbentuknya asal mula tempat adalah merupakan sebagian isi
dari dakwah beliau, yang berupa ajakan yang di dalamnya terkandung
keselamatan bagi manusia bagi yang menuruti nasehat-nasehatnya.
Beberapa orang
menafsirkan bahwa asal-usul nama Jombor
yang selalu dikaitkan dengan Nama Syaikh Abdus Shomad adalah merupakan isi
misi dakwah beliau yang mengandung larangan. Misalnya kata Jo dalam kalimat Jawa “Ojo” (Jangan atau tidak boleh dalam
bahasa Indonesia), diartikan sebagai larangan dan dikaitkan dengan sebuah
ajakan.
Jo musyrik, Jo Munafik, Jo Mungkar, Jo Maca Qur’an
Lan nyenggol nek ra suci, Jo main, Jo medok Jo mabuk-mabukan, madat, Jo
metani alane wong liyo, Jo mateni / mepet dalan pangane wong liyo, Jo meneih
sesaji kanggo syetan, Jo merek-merek barang haram, Jo muwur , Jo mangan riba,
Jo maling dunyo wong liyo, Jo mikir kumed sodaqoh, Jo mbelani perkoro salah,
Jo Mbalelo, Jo mriksani barang kang haram, Jo mburu maksiyat, Jo mekso
kekarepan ala, Jo mikir ninggal shalat wajib, Jo mikir ninggal puoso wajib,
Jo mulang barang kang ala, Jo mituruti bisikan syetan, Jo moni padudon karo
tetonggo, Jo mentelantarkan cah yatim, Jo masang sesrangkah dalan tetonggo,
Jo mungkir, Jo mutus tali paseduluran, Jo mati ra nggowo iman, Jo melak-melik
dunyo wong liyo, Jo mempeng golet dunyo nanging lali gusti Allah, Jo
mbetitil, merem ngamal kanggo akherat, Jo mbanggel karo nasehate kyai, Jo
mblenjani janji, Jo moni nyupatani karo sepada-pada, Jo minteri sepada-pada,
Jo mbebani tanggungjawab marang wong kang ora mampu, Jo mbeler nggolet
pangupa jiwo (kasab/pahal), Jo mangas ketipu nikmate dunyo, Jo mbeber alaning
manungsa, Jo mlanggar toto aturaning masyarakat, Jo milih urip sesrawung, Jo
Mubadzir. Dan dakwah-dakwah
yang lain, karena hal tersebut hanya sekedar pendapat.
BOR dalam kalimat jomBOR diartikan sebagai ajakan
oJo Boros. Pemborosan waktu
yang berkaitan dengan umur manusia, jika dikonsentrasikan hanya untuk
kepentingan dunia tanpa dibarengi dengan ibadah adalah kerugian yang besar.
Bila manusia telah diperbudak harta maka hubungan dengan Tuhan menjadi jauh.
Kehidupan manusia di dunia hanyalah sebentar karena umur manusia juga telah
ditentukan Tuhan. Penghaburan harta untuk kesenangan duniawi menyebabkan seorang terjebak dalam israf.
Apabila manusia telah jatuh pada kebangkrutan atau pailit maka ia lebih dekat
kepada kefakiran dan kefakiran mendekatkan pada kekufuran.
|
||||||
|
Batas wilayah
Jombor dari arah barat ditandai dengan sungai Kuyuk dan bagian timur dibatasi
dengan sungai lembarang, bagian selatan berbatasan dengan grumbul Pejaten dan
di bagian utara berbatasan dengan Desa Cirangkok.
Lokasi yang dulu
digunakan untuk mujahadah sekarang didirikan Masjid dan Pondok Pesantren.
Bangunan Masjid dan Pesantren yang dibangun oleh Syaikh Abdus Shomad, berupa
panggung dengan bahan dasar kayu dan bambu, tepat di sebelah utara
|
|||||||
Belum ada tanggapan untuk "Asal Usul Nama Jombor Desa Cipete"
Posting Komentar